Chat CS Gong Publishing Sekarang

Ruang Kecil Penuh Cinta

Rp75.000

+ Free Shipping

Judul Buku: Ruang Kecil Penuh Cinta

Penulis: Ayu Inggit Indriana dkk

Terbit: Juni 2025

Ketersediaan: 200 in stock

Di tangan saya ada buku berjudul ”Ruang Kecil Penuh Cinta” dengan sub judul ”Perjuangan Guru Memahami Anak-anak Istimewa”. Buku ini ditulis oleh 60 orang yang bekerja di Sekolah Khusus Negeri (SKHN) 01, Kota Serang. Mereka terdiri dari  TU, OB, dan satpam.

Jujur saja, saya kaget dan tidak percaya. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari menemani anak-anak istimewa dengan segala kekurangannya; ada anak yang menggunakan kursi roda, tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, bahkan yang memiliki tidak kecerdasan di bawah rata-rata.

Adalah Agus Helfi Rahman yang menginisiasi penerbitan buku ini. Dimulai dari pelatihan menulis kepada mereka. Saya dan Rudi Rustiadi membagikan pengalaman cara menulis kisah inspiratif. Mereka jadi bersemangat, karena akan menuliskan suka-duka mereka selama menemani anak-anak istimewa di SKHN 01 Kota Serang.

Sungguh luar biasa pencapaian ini. Saya berani mengatakan, ini adalah peristiwa sakral, karena sepanjang Banten jadi provinsi, 2000 – 2025, inilah buku pertama yang ditulis oleh orang-orang yang bekerja di sekolah khusus dengan beragam profesi.

Sejarah telah ditorehkan oleh Agus Helfi Rahman dan kawan-kawan. Peristiwa-peristiwa yang tadinya mereka anggap kecil atau biasa saja, tapi setelah dituliskan jadi hal yang luar biasa. Mereka menuliskan peristiwa yang belum tentu kita alami.

oOo

Saya jadi berkaca pada diri sendiri, karena yang mereka tuliskan adalah tentang saya sendiri. Saya adalah anak berkebutuhan khusus sejak duduk di bangku kelas 4 SD (1974). Tangan kiri saya diamputasi sebatas siku akibat terjatuh dari pohon. Di Banten saat itu teknologi kedokteran yang menangani patah tulang belum ada sehingga penanganannya ke dukun.

Saya juga menuliskan kisah hidup saya sebagai difabel. Saya senang membaca, sehingga keinginan menulis sangat kuat. Saya selalu senang mengutip Multatuli, “Ya, aku bakal dibaca!” Maka saya pun menulis kisah hidup sendiri agar orang-orang bisa bercermin.

Ini saya sadari betul, bahwa hidup saya terdiri dari banyak kisah. Orang-orang sering iseng bertanya, “Jika kamu sekarang berlengan dua, apa yang akan kamu lakukan?”

Pertanyaan yang mudah tapi sulit juga saya jawab. Bisa saja saya tetap melakukan yang saya lakukan sekarang. Atau bisa saja saya mengejar mimpi bertarung di kejuaraan badminton All England meneruskan Rudi Hartono yang juara 8 kali atau keliling dunia – per 2025 ini saya baru traveling di 21 negara – sambil tetap menulis.

Saya teringat ketika terbangun dari operasi yang panjang di CBZ (sekarang RS Cipto) di Jakarta dari pukul 01.00 – 07.00 WIB, tahun 1974, menemukan tangan kiri saya dibebat perban sebatas siku.

”Emak, tangan Heri kok buntung? Panjang lagi nggak?” tanya saya. Dalam pikiran anak kecil seperti saya waktu itu, gigi copot tumbuh lagi, rambut dibotakin panjang lagiu, kuku dipotong panjang lagi.

Emak menjawab, “Panjang lagi.”

Setiap pagi, saya mengukur tangan. Kok, tidak panjang-panjang. Saya protes kepada Bapak dan Emak.

Kata Bapak, “Sekarang ikuti kata Bapak, ya. Setiap bada subuh, Heri lari di alun-alun sama Bapak. Pulang sekolah baca koran, majalah, buku, apa saja. Dan sebelum tidur mendengarkan dongeng dari Emak.”

Sejak itu – kata guru ngajiku kalau ingin masuk surga harus menuruti perintah orangtua – yang saya lakukan adalah berolahraga, membaca, dan mendengarkan dongeng. Ridho Allah adalah ridho orang tua.

Dan Allah SWT membalasnya. Saya merasa bersyukur. Ketika SMA, sepulang dari Kejuaraan Badminton Junior se-Jawa Barat dan profilku ditulis di koran Pikiran Rakyat, Emak memeluk saya. Lawan-lawan saya di lapangan badminton, semuanya berlengan dua.

Kata Emak, “Tangan kirimu panjang lagi kan. Tangan kirimu sekarang ada di teman-temanmu, guru-gurumu, ada di semua orang yang nanti datang memberi pertolongan kepadamu atau yang kamu berikan pertolongan. Dan nanti istrimu adalah tangan kirimu. Anak-anakmu juga.”

Dari olahraga badminton, prestasi saya bagus. Jika bersaing dengan pebulutangkis yang berlengan dua, prestasi saya di level provinsi, juara kedua, 1980-82. Saat kuliah di Fakultas Sastra, UNPAD Bandung, 1982-85, saya juara keempat dalam kejuaraan antar kampus se-Bandung. Juara 1, 2, dan 3 lengannya dua.

Nah, prestasi badminton saya di Asian Para Games (Fespic Games) di Solo (1986) memborong 3 emas untuk beregu, double, dan single badminton. Di Kobe, Jepang (1989) menyabet emas beregu dan double, sedangkan single jadi perunggu.

Kemudian kebiasaan saya membaca, ternyata buku menjadikan saya kuat menjalani hidup yang keras ini. Buku membuat saya berdaya, sehingga kekuatiran orang-orang bahwa saya sebagai orang cacat akan jadi beban keluarga dan masyarakat tidak terbukti.

Ya, ternyata buku membuat saya lupa, bahwa saya berlengan satu. Buku membuat saya bahagia. Buku membuat saya tahu harus melakukan apa. Dengan buku saya bisa mengenal dunia. Pada akhirnya saya membaca jadi memiliki pikiran yang sehat dan dengan menulis saya jadi hebat. Terdengar sombong. Tapi itu penting untuk identitas saya agar jadi lebih mudah dalam mengampanyekan literasi baca-tulis.

Hingga hari ini, saya sudah menulis 130 buku. Beberapa buku saya dialihwahanakan jadi sinetron, FTV, dan film. Itu tentu membuat saya semakin bersemangat membagikan keajaiban sebuah buku.

Terakhir, dari kebiasaan saya mendengarkan cerita dari Emak sebelum tidur, tanpa sadar saya mendapatkan pengalaman spiritual dan pelajaran 4 keterampilan berbahasa; mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Saya selalu menyimak setiap kata atau kalimat yang keluar dari mulut Emak.

Setelah selesai bercerita, Emak akan menanyakan beberapa hal kepada saya terkait cerita yang sudah disampaikan tadi; mulai dari nama-nama tokoh, karakternya, alur ceritanya, dan ending ceritanya. Bahkan saya diminta untuk mengungkapkan perasaan saya.

Dampak yang saya rasakan dari kebiasaan mendengarkan cerita itu, saya jadi senang berbicara di depan orang. Ketika kesempatan itu datang bertubi-tubi karena saya diminta jadi narasumber pelatihan menulis, saya selalu mengawalinya dengan bercerita.

oOo

Apa yang saya ceritakan di atas sangat berhubungan dengan isi buku ini. Para penulis di buku ini bisa saya golongkan sebagai guru-guru inspiratif. Mereka tidak sekadar jadi tenaga pengajar bagi anak-anak berkebutuhan khusus di SKHN 01 Kota Serang, tapi juga sebagai sahabat yang menebarkan cinta.

Khalayak luas penting memiliki buku ini. Pemerintah Kota Serang harus memperbanyak buku ini dan membedahnya di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Serang agar orang-orang tahu, upaya-upaya praktik inklusivitas di dunia pendidikan sedang berlangsung di SKHN 01 Kota Serang.

Jika para orang tua di Kota Serang atau Banten secara luas, memiliki anak-anak yang istimewa dan memerlukan penanganan secara khusus, jangan ragu untuk datang dan menyertakan anak-anaknya di SKHN setempat.

 

Rumah Dunia, Kota Serang 1 Juni 2025

 

Gol A Gong

Duta Baca Indonesia 2021-2025

Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Ruang Kecil Penuh Cinta”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja