“Sunyi yang Masih Bersuara”
Ada sunyi yang kosong, ada sunyi yang berbicara. Kumpulan Puisi “Sunyi yang Masih Bersuara” karya Jawarlangit, sohib saya ini, adalah genre sunyi kedua –sebuah kesunyian yang justru merangkul segala suara; rindu yang tak terucap, doa yang tersangkut di langit-langit mulut, dan luka yang memilih bersembunyi di balik senyum.
Sebagai penyunting, saya tak hanya menyusun baris-baris puisi-puisi ini, tetapi juga menyelami setiap diam yang sengaja ditorehkan sang penyair. Di sini, kata-kata bukan sekadar alat; mereka adalah jejak-jejak jiwa yang berjalan di antara dunia nyata dan alam batin. Puisi seperti “Aku, Bayangan yang Kaucari” atau “Resah yang Diam” bukanlah karya yang ingin dibaca dengan cepat. Mereka meminta kita berhenti, mendengar bisikannya, dan merasakan getarannya.
Jawaralangit menulis dengan keberanian yang halus. Dia tak takut mengorek luka (Wanita Malam”), atau berbicara kepada Tuhan dengan nada yang hampir marah (“Semoga”). Namun di balik semua itu, ada cahaya yang tersembunyi –seperti pelangi setelah hujan di “Pelangi di 01 Bhayangkara,” atau angin yang membawa harum lumut di “Angin di Jalatunda.”
Buku ini saya rangkai dalam empat bab untuk membimbing pembaca menyusuri lorong-lorong emosi sang penyair. Dari cinta yang patah, renungan atas alam dan spiritualitas, kepedihan sosial, hingga refleksi tentang waktu dan manusia modern. Tapi sesungguhnya, seluruh puisi ini merupakan satu kesatuan; sebuah upaya menyuarakan sunyi-sunyi yang selama ini dipendam.
Terima kasih kepada my friend of mine, Jawaralangit yang memercayakan karyanya untuk dibukukan. Juga kepada Anda, para pembaca, yang berkenan mendengarkan sunyi ini. Sebab puisi-puisi ini hanya akan hidup jika ada yang bersedia mendengarnya. Tak lupa, kepada penerbit Gong Publishing yang telah membantu proses penerbitannya. Kita akan bekerja sama makin intens ke depan.
Selamat memasuki dunia Jawaralangit –dimana diam-diamnya justru paling nyaring.





Reviews
There are no reviews yet.