Setelah Tangis Reda

Rp75.000

+ Free Shipping

Judul Buku: Setelah Tangis Reda

Penulis: Gol A Gong dkk

Terbit: Juli 2026

Kategori:

Sastra: Kesaksian, Perlawanan dan Harapan

Sastra lahir dari kehidupan. Ia tumbuh dari kegelisahan, pengalaman, luka, harapan, dan pergulatan manusia dalam menghadapi realitas sosial. Karena itu, sastra bukan hanya sekadar hiburan. Di tangan para penulis, sastra menjelma menjadi ruang kesaksian, perlawanan, sekaligus ruang penyembuhan.

Antologi cerpen Setelah Tangis Reda hadir dari realitas tersebut.

Cerita-cerita yang terhimpun dalam buku Setelah Tangis Reda ini memperlihatkan satu benang merah: suara-suara yang selama ini sering dibungkam. Para tokoh dalam cerita ini adalah mereka yang mengalami perundungan, pelecehan seksual, kekerasan dalam relasi kuasa, pengkhianatan kepercayaan, trauma keluarga, diskriminasi, hingga luka psikologis yang harus dipikul sepanjang hidup. Mereka adalah anak-anak, remaja, perempuan, siswa, mahasiswa, bahkan orang-orang mungkin hidup di sekitar kita.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak korban memilih diam. Bukan karena tidak ingin berbicara, melainkan karena takut tidak dipercaya, takut disalahkan, atau takut menghadapi stigma sosial yang lebih menyakitkan daripada peristiwa yang mereka alami. Di sinilah buku ini mengambil peran penting. Cerita-cerita dalam antologi ini menghadirkan ruang aman bagi mereka yang selama ini kehilangan suara.

Buku ini mengangkat persoalan yang relevan dengan realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Kekerasan seksual, bullying, relasi kuasa yang timpang, budaya menyalahkan korban, serta kecenderungan menutupi kejahatan demi menjaga “nama baik” menjadi isu yang berulang kali muncul dalam berbagai berita. Para penulis dengan berani membongkar kenyataan bahwa pelaku kekerasan sering kali justru berasal dari lingkungan yang dipercaya: keluarga, guru, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemimpin organisasi, atau orang-orang yang memiliki otoritas.

Buku ini tidak berhenti pada pengungkapan luka.

Sebagaimana judulnya, Setelah Tangis Reda, antologi ini juga berbicara tentang keberanian untuk bangkit setelah ketakutan, trauma dan kesunyian. Harapan itulah yang menjadikan buku ini tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan menawarkan kemungkinan baru bagi para penyintas untuk menatap masa depan.

Melalui cerita-cerita para penulis, pembaca diajak memahami bahwa luka psikologis tidak selalu terlihat oleh mata. Ada trauma yang hidup bertahun-tahun di dalam ingatan seseorang. Ada ketakutan yang terus mengikuti langkah korban bahkan setelah peristiwa itu berlalu. Karena itu, buku ini mengajarkan bahwa mendengar dan mempercayai korban adalah langkah awal kita untuk berempati dan menunjukkan rasa keadilan.

Dari sisi kesusastraan, antologi ini menawarkan keberagaman suara, gaya, dan teknik penceritaan. Setiap penulis menghadirkan sudut pandang yang unik dalam memaknai luka dan pemulihan. Ada yang menggunakan pendekatan realisme sosial yang lugas dan langsung menghantam kesadaran pembaca. Ada yang membangun ketegangan psikologis melalui monolog batin tokoh. Ada pula yang memanfaatkan simbol, metafora, dan ironi untuk memperdalam makna cerita.

Dalam tradisi sastra, karya yang baik bukan hanya mampu menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran. Antologi Setelah Tangis Reda melakukan keduanya. Ia mengajak pembaca memasuki dunia tokoh-tokohnya, merasakan ketakutan mereka, memahami luka mereka, sekaligus merenungkan posisi kita sebagai anggota masyarakat. Apakah kita termasuk orang yang berani membela korban? Ataukah kita justru menjadi bagian dari budaya diam yang selama ini melindungi pelaku?

Pada akhirnya, buku ini merupakan pengingat bahwa sastra memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Menulis adalah cara untuk mengubah luka menjadi makna. Membaca adalah cara untuk memahami pengalaman orang lain. Ketika keduanya bertemu, lahirlah empati—dan empati adalah fondasi utama bagi lahirnya masyarakat yang lebih manusiawi.

Saya mengucapkan selamat kepada seluruh penulis yang telah menuangkan kegelisahan, kepekaan, dan keberanian mereka ke dalam antologi ini. Semoga buku ini tidak hanya menjadi kumpulan cerpen yang selesai dibaca, tetapi juga menjadi percakapan yang terus hidup dalam pikiran dan hati para pembacanya.

Karena sesungguhnya, setelah tangis reda, yang tersisa bukan hanya luka.

 

 

Gol A Gong

Duta Baca Indonesia 2021-2026

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Setelah Tangis Reda”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja