Penggunaan media sosial di masa kini telah menembus batas-batas komunikasi personal manusia. Siapa pun dapat mengetahui peristiwa di mana saja dan kapan saja, termasuk memberi respons tanpa harus saling mengenal dengan siapa pun yang menjadi aktor di dalam peristiwa tersebut. Netizen bisa saja menghakimi orang lain walaupun belum mengetahui keseluruhan cerita, apalagi menempatkan dirinya di sepatu orang itu. Kita sering kali prihatin, reaksi yang nirempati seperti ini tidaklah produktif, malah berisiko membuat masalah semakin kusut atau menyebabkan penderitaan banyak pihak.
Perilaku kita dalam bermedia sosial adalah gambaran bagaimana dalam kehidupan sesungguhnya pun kita sering kali tidak mampu membuat keputusan yang tepat karena gagal menempatkan diri pada sudut pandang yang berbeda dari posisi kita sendiri. Bisa jadi karena kita terlalu cepat mengambil kesimpulan, tidak cukup ruang kita berikan kepada diri kita untuk mencerna, menimbang, lalu memutuskan.
Salah satu tema kehidupan yang paling menarik untuk mengeksplorasi fenomena tersebut adalah tentang cinta. Cinta yang kita sebut bahasa universal nyatanya setiap hari melibatkan banyak sekali jenis emosi dalam diri kita, membuat kita mengalami berbagai pengalaman dan pemahaman mendalam tentang berbagai peristiwa. Pemahaman yang tumbuh jika kita mau belajar dan membiasakan diri mengambil mutiara hikmah dari setiap derita ataupun anugerah.
Cerpen pertama dalam antologi ini “Dua Piring, Satu Meja”, aku tulis sebagai refleksi dari pengalaman pribadi dan orang-orang yang kukenal. Bagiku, mengamati perilaku manusia dan memahaminya dengan mendalami dari mana perilaku itu berasal amatlah menarik. Termasuk bagaimana “isi kepala” manusia sesungguhnya tidak mudah diketahui apalagi dipahami oleh orang lain, padahal inilah salah satu pemicu konflik, luka batin dan bahkan pengambilan keputusan-keputusan yang tidak tepat hingga kehidupan yang penuh penderitaan.
Cerpen-cerpen berikutnya memberikan kesempatan refleksi yang lebih jauh dan luas. Cinta antar manusia yang terjebak dalam kompleksitas hubungan karena jarak, waktu, status dan latar belakang menjadi lukisan di atas kanvas kehidupan yang dapat dinikmati sekaligus dihayati.
Setiap cerita di dalamnya memberikan kita kesempatan untuk melihat bagaimana perasaan dapat muncul dari, kepada atau di antara siapa saja. Kita tidak punya kekuasaan untuk menentukannya. Namun kita sesungguhnya memiliki kemampuan untuk memilih respons apa yang dapat kita berikan terhadap perasaan itu. Kontrol diri dalam memilih respons itulah yang akan menentukan bagaimana kelanjutan dari peristiwa itu.
‘Kelanjutan dari peristiwa’, aku tidak menyebutnya akhir, karena bagiku, dalam sebuah kisah cinta, akhir adalah sesuatu yang sangat personal. Tidak seorang pun tahu karena akhir sebuah kisah cinta hanya benar-benar diketahui oleh mereka yang menjadi aktor utama di dalamnya, bukan orang lain. Jika akhir sebuah kisah cinta saja tidak benar-benar kita ketahui, apalagi hitam putih atau benar salah yang sering kali kita jatuhkan vonisnya.
Antologi ini terdiri dari dua bagian utama. Lima cerpen pertama akan memperkenalkan pembaca kepada lima pasangan tokoh dalam satu momen kehidupan. Di bagian kedua, lima cerpen yang disajikan membawa pembaca kepada para tokoh di titik kehidupan yang berbeda. Pembaca dapat pula mendapatkan sudut pandang yang tidak sama antara cerpen di bagian satu dan bagian dua, tentu dengan harapan kita semakin terbiasa mengajak diri kita untuk mengingat dan mencoba melihat persoalan dari sudut pandang selain yang kita miliki.
Proses menyelesaikan semua cerpen hingga menjadi antologi ini memakan waktu kurang dari satu bulan. Tepat di hari kemerdekaan Indonesia tahun ini, kuputuskan untuk menyalurkan hasrat yang telah terpendam selama puluhan tahun. Kiranya sekian banyak isi kepala dan hati yang menunggu tertuang membuat ide mengalir tak terbendung. Ini semua tentu karena dorongan dan motivasi kuat dari Mas Gol A Gong yang sejak belasan tahun lalu sudah bertanya kapan keinginan menulis itu kuwujudkan.
Dan aku baru sadar, harus menunggu sekian lama untuk berkarya karena aku terjebak dalam sudut pandangku sendiri. Bukan sudut pandang seorang penulis yang berani keluar dari zona nyamannya, disiplin merekam peristiwa, menempa diri hingga lahir karya yang bisa jadi menjadi inspirasi kita semua. Untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, paling tidak sebagai DUA DUNIA.





Ulasan
Belum ada ulasan.