POHON PUISI DI TAMAN SASTRA
Seorang lelaki dan perempuan berdiri di pintu sebuah taman. Ada penjaga bertampang seram berdiri di sana.
“Boleh masuk?” tanya si lelaki. “Saya bawa puisi. Mau saya gantungkan di pohon puisi.”
“Jenis puisinya?”
“Puisi A.”
“Kamu, bawa puisi? Puisi apa?” tanya si penjaga.
“Puisi B.”
Si penjaga mengizinkan mereka masuk.
Setelah itu bergantian orang-orang masuk ke taman dan menggantungkan puisi di dahan dan di ranting pohon puisi.
Kemudian mereka bersalaman, saling berbagi alamat dan nomor kontak, dan menikmati makanan dan minuman. Tawa mereka sangat bahagia ketika menyaksikan pohon puisi dihiasi puisi-puisi yang beraneka warna.
Tiba-tiba muncul dua orang anak- lelaki dan perempuan. Mereka menatap takjub ke taman dan menikmati keindahan pohon puisi.
Penjaga seram itu mendekati mereka. “Mana puisi kalian?” tanyanya.
“Kami tidak menulis puisi. Kami hanya ingin bertanya. Kenapa mereka tampak akur dan bahagia?” tanya anak lelaki.
“Siapa orang-orang ini?” tanya si anak perempuan. “Apakah mereka penyair? Sastrawan?”
Si penjaga tersenyum. “Mereka bukan siapa-siapa. Mereka bukan sastrawan, apalagi penyair. Mereka merawat taman ini dan menanam pohon agar kota ini sejuk dan bersih tidak terkena polusi.”
“Apakah sastrawan merusak taman ini?”
“Bukan hanya sastrawan. Kita semua merusak bumi. Sastrawan merusak makna kata dengan perbuatannya. Pengusaha merusak taman ini. Pejabat memperparah dengan keputusan hutan boleh digunduli, sungai boleh dikencingi limbah pabrik.”
“Apa yang harus kami lakukan?”
“Jaga dan rawatlah bumi. Dimulai dari diri kita. Perilaku kita.”
Bandung Selatan, 26 Juli 2025
Gol A Gong



Reviews
There are no reviews yet.