Mahkota di Atas Debu

Rp50.000

+ Free Shipping

Judul Buku: Mahkota di Atas Debu

Penulis: Asqo L Fatir dkk

Terbit: Juli 2026

Kategori:

Puisi selalu memiliki cara yang khas untuk berbicara kepada semua hal, termasuk pada hal yang abstrak tapi memiliki kekuatan besar; kekuasaan. Ia tidak datang dengan pengeras suara, tidak pula membawa palu pengadilan. Ia hadir melalui metafora, ironi, kegelisahan, dan harapan.

Antologi Mahkota di Atas Debu ini lahir untuk merayakan Hari Puisi Indonesia tahun 2026 di Rumah Dunia. Para menulisnya adalah orang-orang Banten. Mereka menginterpretasikan makna kekuasaan berdasar-kan kegelisahan, empiris dan harapan. Tema yang diangkat mungkin terdengar politis. Namun sesungguhnya jauh lebih luas. Kekuasaan tidak hanya berwujud kursi pemerintahan, jabatan, atau singgasana. Ia hidup di ruang keluarga, sekolah, tempat kerja, media sosial, bahkan dalam diri setiap manusia yang harus memilih antara nurani dan ambisi.

Melalui puisi-puisi yang tersaji di dalam buku ini, pembaca akan menemukan beragam suara. Ada yang lantang mengkritik penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, oligarki, ketidakadilan, dan pengkhianatan terhadap amanah. Ada pula yang mengajak merenungkan bahwa kekuasaan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri, menjaga integritas, serta tetap berpihak kepada kemanusiaan. Di antara kemarahan dan kritik, tumbuh pula harapan bahwa kuasa masih dapat dijalankan sebagai jalan pengabdian, bukan sekadar alat untuk menguasai.

Keistimewaan antologi ini terletak pada asal-usul para penyairnya. Mereka adalah putra-putri Banten yang datang dari latar belakang berbeda: guru, pegiat literasi, pekerja, mahasiswa, seniman, hingga masyarakat umum. Keragaman pengalaman hidup melahirkan keragaman cara pandang dalam memaknai kekuasaan. Namun, seluruhnya bertemu pada satu keyakinan yang sama: bahwa kekuasaan tanpa nurani akan kehilangan makna, sedangkan kekuasaan yang berpihak kepada rakyat akan selalu menemukan tempatnya dalam sejarah.

Banten sendiri memiliki sejarah panjang tentang kepemimpinan, keberanian, perlawanan, dan kebijak-sanaan. Dari warisan Kesultanan Banten, kearifan masyarakat Baduy, hingga semangat para jawara yang menjunjung kehormatan, tanah ini mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah hak untuk ditakuti, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Semangat itulah yang mengalir dalam banyak puisi di dalam buku ini.

Kami di Rumah Dunia berharap antologi ini tidak dibaca sebagai kumpulan kritik semata. Lebih dari itu, buku ini adalah ruang dialog antara penyair dan pembaca; antara masa lalu, masa kini, dan masa depan; antara penguasa dan rakyat; bahkan antara manusia dengan hati nuraninya sendiri. Sebab pada akhirnya, setiap orang adalah pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri.

Terima kasih kepada seluruh penulis yang telah menyumbangkan karya terbaiknya. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terbitnya antologi ini. Semoga setiap bait yang tersaji mampu menggugah kesadaran, menumbuhkan keberanian untuk berkata benar, serta mengingatkan bahwa jabatan hanyalah sementara, sedangkan nilai-nilai kemanusiaan akan selalu hidup melampaui zaman.

Selamat membaca. Semoga puisi-puisi ini tidak hanya mengisi halaman-halaman buku, tetapi juga menghidup-kan nurani kita.

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Mahkota di Atas Debu”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja