Pesawat menderu-deru di langit kota kecil bernama Serang. Aku ambil lima kelereng dari gundukan dalam lingkaran, lantas berlari menuju alun-alun di sebelah utara tempat tinggalku―Kompleks PDK atau Kompleks Guru.
Kelereng itu berjatuhan. Aku memungutinya dan memasukkannya lagi ke saku celana pendek cokelat Pramuka. Satu kelereng terjatuh lagi, aku biarkan saja. Di saku celanaku masih banyak kelereng. Tadi aku menang sekitar 20 kelereng. Endang, Ateng, Riri, Maman, Heru, Adang, Daday, Hendra, Alit, dan Ririn, berebut mengambil sisa kelereng di dalam lingkaran dan mengejarku.
Kami―anak kompleks―berlarian sambil berteriak-teriak, “Kapal minta duit! Kapal minta duit!”
Kami berebut menerobos pintu gerbang belakang sekolah. Dinding belakang sekolah kami memunggungi kompleks. Kami melintasi lapangan sekolah yang membentuk huruf U―di timur SDL 1, sebelah barat SDL 2. Kedua sekolah itu merupakan sekolah favorit di Serang. Kami semua bersekolah di SDL 1, kecuali Riri dan Maman di SD Mardiyuana. Dinding aula sekolah berbatasan dengan kompleks. Jika aku berdiri di dalam aula dan memandang ke jendela belakang, maka dapur rumah Hendra, Adang, Daday, dan Alit akan kelihatan.
Pandangan kami terus ke langit. Orang-orang berhamburan dari pesawat terbang. Mereka para tentara yang gagah berani. Beberapa tentara ada yang sudah mendarat di alun-alun yang rumputnya tebal dan hijau―tempat kami biasa bermain bola. Hebat. Padahal di sisi timur ada sport hall; tidak satu pun penerjun ada yang mendarat di atap sport hall. Mereka seperti pemain silat, melipat parasut dan menggotongnya ke Gedung Makodim di sebelah utara.
Aku berdiri dengan segala kekaguman. Membayangkan jadi pilot pesawat terbang.
Tiba-tiba, terdengar bunyi ribut di atas kepalaku. Semua mendongak. Ada parasut tersangkut di pohon asam jawa yang mengelilingi alun-alun. Tentara itu meronta-ronta melepaskan diri dari belitan parasut dan jatuh di sampingku.
BUK!
Aku mundur.
Kawan-kawanku juga.
“Mau jadi penerjun?” tanyanya sambil mengusap-usap kepalaku.
“Jadi pilot!” suaraku lantang.
Tentara itu tersenyum, berdiri tegap, dan memberi hormat kepadaku, juga kepada kawan-kawanku.
“Hormaaaat, graaaak!” teriakku menirukan inspektur upacara militer.
Semua memberi hormat.
Tentara itu berlari melintasi alun-alun. Aku suka melihat tubuhnya yang tegap. Seragam hijaunya. Sepatu botnya. Sangat gagah.
Sudah seminggu ini banyak tentara berlatih di alun-alun. Menjelang 5 Oktober 1974, perayaan Hari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
“Ayo, kita perang-perangan!” Hendra―lebih tua dua tahun dariku, berlari lagi ke kompleks.
Aku mengejarnya, “Ayo! Siapa jadi jenderalnya?”
“Aku!”
“Aku!”
“Aku!”
Semua mengacungkan tangan. Berkejaran sampai ke kompleks.
“Makan siang dulu!” perintah Hendra.
“Nanti pake baju tentara, ya!” usulku.
“Iya!” semua serempak setuju.
Aku berlari pulang ke rumah. Berkejaran dengan Endang dan Ateng. Rumahku tipe 45. Kopel alias berdempetan dengan rumah Endang. Ateng adik Endang. Aku sekelas dengan Endang di kelas 4 SDL 1. Ateng dua tahun di bawah kami, sekelas dengan Gosal―adikku, yang sedang main congklak dengan Evi dan Iva―adik perempuan kembar kami, di teras rumah. Si kembar sekolah di TK Pertiwi, Karesidenan.
* * *
Rumahku paling belakang dan berada di pojok; di sisi barat kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), di selatan SDN 4 dan SDN 8, sementara rumah kami menghadap SMPN 2 serta musala.
Bapak sengaja memilih rumah di situ karena ada halaman luas. Bapak membuatkan aku kolam ikan, menanam pohon delima, pisang, dan nangka. Bapak bersama kakakku―Didin dan Hasan, membuat sumur untuk kebutuhan sehari-hari. Sumur itu, jika musim kemarau masih menyediakan air untuk kami minum. Sedangkan untuk mandi dan mencuci pakaian, kami ke kali Banten―sekitar 100 meter melewati kantor BMG dan rumah sakit.
“Pak, bikinin topi baja! Mau perang-perangan!” mulutku penuh dengan nasi.
“Ikut!” kata Gosal berlari ke rak piring; dia mengambil panci kecil dan memakainya seperti topi baja.
Aku tertawa.
“Habiskan dulu makannya!” perintah Bapak yang sedang membereskan busur dan anak panah. Di piring tersisa dua potong tahu dan tempe. “Habiskan! Tinggal Heri sama Gosal!” Bapak memerintah.
“Awas, pancinya rusak nanti!” Emak tertawa mengetuk panci beberapa kali.
Gosal menggeleng-gelengkan kepalanya; dia mencoba menghindar.
Emak mengambil panci dari kepala adikku.
“Nanti topi bajanya dibikinin Didin,” Bapak menunjuk ke Didin yang memegang bola sepak.
“Ayo, Her!” Didin menarikku. “Cepetan! Soalnya Didin mau main bola sama Hasan!”
Didin kelas 6 SDL I. Dia bukan kakak kandungku. Nenek Didin adalah kakak Emak. Didin dititipkan sekolah di Serang. Orang tua Didin berjualan baju dan peci di Pasar Jumat, Purwakarta. Orang tua Didin ingin Didin jadi guru seperti Bapak dan Emak.
Bapak guru olahraga di Sekolah Pendidikan Guru (SPG), sementara Emak Kepala Sekolah di Sekolah Kesejahteraan dan Kejuruan Perempuan (SKKP).
Rumah kami yang kecil penuh sesak. Kami saudara sekandung berlima―Teteh Dian, aku, Gosal, dan si kembar, ditambah Didin, Hasan, kelas 5 SDL I (putra kakak Emak yang di Purwakarta), dan Ceu Yani di SPG (putri kakak Emak yang di Cianjur). Total sepuluh orang!
Kamar hanya dua. Kamar utama untuk Bapak dan Emak. Kamar satunya lagi untuk perempuan; Teteh Dian (kelas 1 SMPN 2), Ceu Yani, dan si kembar. Sedangkan aku, Didin, Hasan, dan Gosal menggelar tikar di ruang tengah sambil nonton TV hitam putih.
Aku bergegas minum dari kendi gerabah. Sejuk terasa ketika mengaliri tenggorokan. Gosal juga. Kemudian kami berlari mengejar Didin ke halaman. Didin sedang memunguti daun nangka yang jatuh; dia juga memetik beberapa daun nangka yang lebar dari dahan yang menjuntai. Tanpa banyak bicara, Didin merangkai daun nangka itu dengan sapu lidi.
“Gosal bikinin juga,” rengek adikku mencoba memetik daun nangka, tapi tidak sampai.
“Iya,” Didin meraih dahan pohon nangka, agar bisa diraih Gosal.
Selagi Didin menganyam topi baja dari daun nangka, aku mengajak Gosal mencari tutup minuman botol di tempat sampah. Tanpa aku minta, Hasan memotong pelepah pisang dengan pisau dapur, lantas membuang daunnya. Hasan membuatkan kami senapan!
Aku mengambil palu dan paku. Kulubangi tutup botol minuman. Aku anyam dengan kawat sebanyak empat tutup botol. Aku membuat dua. Satu untukku dan satu untuk Gosal. Setelah jadi, kukalungkan di leher, seolah tanda jasa seorang jenderal yang baru pulang dari medan perang. Begitu juga Gosal. Kami gembira bukan kepalang.
Bapak muncul membawa beberapa busur panah dan kantung anak panahnya. Pada saat yang bersamaan, beberapa murid Bapak di SPG datang. Bapak menyuruh mereka menggotong dua papan sasaran anak panah yang terbuat dari karung. Dua orang menggotong kaki penyangganya, dua orang lagi menggotong papan sasarannya.
“Bapak ke alun-alun, latihan panahan,” Bapak mendekati kami.
Sudah kebiasaan kami, berebut mencium tangan Bapak.
Bapak menyusul murid-muridnya. Aku menatap Bapak dengan kagum. Sebagai seorang anak, aku mengidolakan Bapak walaupun rambut di bagian keningnya semakin menipis. Tapi, dengan celana pendek dan kaus berkerah yang di dada kirinya terdapat logo KONI Serang, serta memakai sepatu olahraga merek Bata, Bapak seperti atlet profesional.
Bapak itu all round alias serba bisa. Dia atlet lulusan STO Bandung. Dia melatih tenis dan badminton para petinggi seperti Residen Banten dan Bupati Serang di sore hari. Sekarang sedang mengenalkan olahraga panahan kepada murid-muridnya. SPG juga disulap Bapak jadi sekolah yang disegani di setiap pertandingan olahraga antarsekolah. Musuh bebuyutannya anak-anak STM di sepak bola dan SMEA di bola voli. Jika sedang musim POPSI (Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia), alun-alun Serang ramai seperti pasar.
“Ayo, pakai topi bajanya!” Didin menyodorkan topi baja dari daun nangka kepadaku dan Gosal.
“Ini, senapannya!” Hasan dengan bangga memamerkan dua senapan dari pelepah daun pisang kepadaku dan Gosal. Tentu saja kami senang.
“Ayo, San! Main bola!” Didin berlari ke bagian belakang rumah.
Hasan menendang bola ke arah Didin, yang langsung menangkapnya. Mereka hampir setiap hari main bola di sana bersama anak-anak Kampung Benggala samping rumah sakit. Di sana ada SDN 4 dan SDN 8. Halamannya tanah merah berdebu. Cukup luas untuk main bola.
Dinding belakang dapur dan ruang makan rumah kami, yang terbuat dari papan dan bilik, sering dihantam bola tendangan mereka. Karena gawang bagian utara membelakangi dinding rumah kami. Jika anak Kompleks PDK bermain bola gawang kecil di alun-alun melawan Kampung Kedalingan, Pegantungan, Kaujon, atau Kaloran, Didin jadi playmaker seperti Iswadi Idris dan Hasan jadi striker ibarat Andi Lala!
Aku dan Gosal saling pandang. Bintang tanda saja dari tutup botol minuman menggantung di leher. Topi baja dari daun pohon nangka dan senapan pelepah pisang cukup membuat kami seperti tentara hendak ke medan perang.
Aku berlari ke depan musala, dikejar Gosal. Di sana sudah berkumpul Endang, Ateng, Riri, Maman, Heru, Adang, Daday, Alit, Deni, dan Ririn. Hendra tidak bisa bergabung, tapi digantikan Deni―adiknya yang kelas 1 SD.
“Aku jenderalnya!” Riri yang setahun di bawahku mengusulkan.
“Aku juga mau!”
Semuanya mau jadi seorang jenderal. Kami berdebat tidak keruan. Tanpa sadar, kami berjalan sekitar 50 meter ke utara, ke Jalan Yusuf Martadilaga. Kami berhenti di depan rumah Ririn, persis di bawah pohon petai cina.
“Ayo, siapa berani melompat paling tinggi, dia yang jadi jenderal!” tantangku.
“Ayo!” Endang menerima tantanganku.
Gosal, Ateng, Riri, Maman, Heru, Adang, Daday, Deni, Alit, dan Ririn saling pandang. Tanpa ada yang mengomando, kami yang ingin jadi jenderal bergantian naik ke pohon dan melompat. Semakin tinggi, semakin sedikit yang berani melompat. Sampai kemudian tinggal aku dan Endang.
“Ayo, naik, Her!” Endang menantang dengan naik terlebih dahulu. Dia melompat.
Aku menyusul. Hup! Berhasil.
Lompatan berikutnya, kami berebut ingin melompat lebih dulu. Aku menebak sekitar tiga meter tingginya. Aku dan Endang saling berbagi tempat. Kedua kaki kami mencari pijakan. Kedua lututku bergetar, karena pijakannya tipis.
Semua menjerit.
Pijakan kakiku tidak kuat.
Aku terjatuh.
Ketika bangkit lagi, tiba-tiba saja aku berteriak kesakitan! Tangan kiriku pas sikut ke bawah terkulai. Tangan kananku memeganginya, mencoba meletakkan sikut kiri pada tempatnya. Gosal berlari ke alun-alun memanggil Bapak.
“Heri jatuh!”
“Heri jatuh!”
Semua berteriak-teriak mengabarkan kepada penghuni kompleks. Seisi kompleks keluar rumah. Aku dipegangi Dede―pemuda yang dituakan di kompleks. Kakak Hendra dan Deni, pulang ke rumah. Ternyata Emak tidak ada.
“Emak main kasti di alun-alun!” Teteh Dian panik.
Aku dibaringkan di kasur di kamar Bapak. Aku menangis kesakitan.
Tidak lama Bapak datang bersama Pak Madais―ayah Alit, dan Pak Didi―ayah Endang. Bapak langsung membopongku ke rumah sakit; jalan terdekat melewati belakang rumah. Orang kampung yang sedang bermain bola merubungi Bapak. Didin dan Hasan juga.
“Kunaon Heri, Om?” Didin memanggil Bapak dengan sebutan ‘Om’. Dia cemas memeriksa tanganku.
“Labuh, Din,” aku menceritakan kenapa tadi jatuh sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Aku melihat wajah Bapak tegang. Sepanjang menuju rumah sakit, Bapak tidak berkata-kata. Didin dan Hasan menjajari langkah Bapak yang membopongku. Begitu juga ketika sampai di ruang gawat darurat, tidak ada dokter jaga di RSUD Serang. Bapak tampak kecewa sekali. Seorang perawat bertanya kepada Bapak, kenapa tangan aku bisa patah.
Hari sudah sore.
Mantri Mulyono muncul. “Kenapa lagi?” dia tersenyum.
Aku sudah langganan ditangani Mantri Mulyono. Setahun yang lalu, aku tertabrak opelet di depan SDL 1. Mantri Mulyono yang menangani.
Mantri Mulyono menyuntik tangan kiriku, sebagai penghilang rasa sakit. Lalu diambilnya buku dengan sampul batik yang panjang. Dibantu perawat, dia meletakkan buku panjang itu sebagai bantalan tangan kiriku. Kemudian dibebat dengan perban sekencang mungkin.
* * *
Bapak awalnya menolak saran para tetangga agar membawaku ke dukun pijat di Pal Empat, Baros, arah ke Pandeglang. Tapi Bapak tidak punya pilihan. Bapak menyetir vespa. Pak Madais duduk di belakang. Aku duduk di tengah. Setiap roda vespa masuk ke jalan bergelombang dan berguncang, aku menjerit kesakitan.
Menjelang magrib, vespa membelok ke jalanan kampung yang belum diaspal. Permukaannya berbatu dan berlubang. Penderitaanku semakin menjadi. Di kiri-kanan hutan. Aku takut sekali.
Vespa berhenti di depan rumah panggung. Tidak ada pasien. Aku dibopong Pak Madasis ke teras rumah. Bapak mengucap salam, “Asalamualaikum…”
Pak Madais merebahkan tubuhku di lantai bambu. Aku menahan tangis sekaligus sakit. Dukun urut bernama Marzuki muncul dengan sarung dan peci. Dia memeriksa tangan kiriku. Perban dibuka. Di atas sikut tampak seperti daging menonjol.
“Kenapa si kasep?” Pak Marzuki memuji parasku.
“Jatuh dari pohon,” Bapak mewakiliku.
Pak Madais bercerita, bahwa aku bersama anak kompleks lainnya―termasuk dengan Alit, putranya―main terjun-terjunan dari pohon. Dia mendapat cerita itu dari anaknya. Apalagi pohon petai cina itu persis di depan rumahnya.
“Berapa meter?” dukun Marzuki penasaran.
“Mungkin sekitar tiga meter,” tambah Pak Madais.
Bapak diam saja.
Pak Marzuki bertanya ini-itu sambil mengolesi tangan kiriku dengan minyak yang sudah diberi bawang merah. Terasa hangat. Kaki kirinya masuk ke ketiak tangan kiriku.
“Sekolahnya kelas berapa?”
“Kelas empat. Mau kenaikan kelas,” suaraku lirih.
Tiba-tiba saja kedua tangannya menarik tangan kiriku. Kaki kirinya menekan ketiak tangan kiriku.
KRAAAK!
Aku menangis sekencang-kencangnya bercampur jeritan. Rasa sakitnya tidak terkira. Pembantunya menyerahkan dua batang kayu yang sudah dipotong seukuran tangan kiriku. Kedua kayu itu menggepit tangan kiriku, lalu dengan kain dibebatnya sekencang mungkin.
Sepanjang perjalanan pulang, aku menangis menahan sakit di atas vespa. Itu berlanjut ketika tubuhku dibaringkan di kamar Bapak. Emak mengipasi tangan kiriku hingga larut malam. Emak seperti biasa, menambahi menu malam itu dengan memberiku dongeng sebelum tidur: kisah 1001 malam. Aku senang dengan kisah Aladin dan Sinbad!
* * *
Mantri Mulyono datang ke rumah seminggu kemudian. Dia membuka kain yang membebat tangan kiriku. Bengkak dan hitam. Dia mencubit telapak tangan kiriku.
“Sakit?”
Aku menggeleng.
Mantri Mulyono mengeluarkan pisau bedah dan membesetnya. “Sakit?” dia membeset lagi.
Aku masih menggeleng. Emak yang duduk memijiti bahuku mencoba menghiburku.
“Tolong, ambilkan ember,” pinta Pak Mul.
Bapak menyuruh Didin mengambil ember. Tidak berapa lama Didin kembali membawa ember dari seng.
Pak Mul membeset tangan kiriku di beberapa bagian. Nanah kental kehijauan mengucur, ditampung di ember. Aku tidak merasakan apa-apa.
* * *
Malam itu juga, sekitar pukul 23.00, aku dibawa ke CBZ (Centraal Burgerlijke Ziekenhuis) Jakarta. Bapak, Emak, dan Didin ikut bersamaku. Tetangga kompleks―Uwak Samsi, meminjamkan mobil VW kodoknya. Uwak Samsi tinggal di Kompleks Dinas Pekerjaan Umum (DPU), bersebelahan dengan Kompleks PDK. Uwak Samsi dicintai anak-anak seusiaku, karena setiap lebaran membagi-bagikan uang.
Pukul 01.00 WIB, kami sampai di CBZ. Aku langsung dibawa ke ruang operasi. Malam itu juga, tanganku diamputasi sesikut. Sebelum masuk ruang operasi, aku melihat dokter memarahi Bapak yang teledor. Bapak hanya menunduk dengan perasaan penuh rasa bersalah.
Aku berbaring di brankar. Cahaya lampu menyilaukan mata. Jarum suntik memasukkan bius total ke tubuhku. Aku disuruh menghitung, “Satu, dua, tiga, empat, lima…”
Aku terbangun, hari sudah pagi. Emak dan Bapak duduk di kasur menemaniku. Didin berdiri di ujung kakiku. Aku kaget karena tangan kiriku sangat berat. Ketika aku lihat, ternyata tangan kiriku diperban tebal sekali. Tangan kiriku kini sebatas sikut saja.
“Emak…”
“Iya, Her…”
“Tangan Heri, kok, buntung?”
“Iya. Tadi malam dioperasi. Kata dokter, kalau tidak diamputasi, nanti racunnya bisa menyebar ke jantung.”
“Emak… Nanti, nanti tangan Heri panjang lagi, nggak?”
Aku melihat kedua mata Emak berkaca-kaca. Bapak berdiri mematung.
“Panjang lagi nggak, Mak?”
“Iya, nanti panjang lagi.”
Aku merasa lega. Didin menatapku dengan wajah sedih. Jika gigi copot, nanti tumbuh lagi. Jika rambut dicukur, panjang lagi. Kuku dipotong, juga tumbuh lagi. Aku merasa yakin, bahwa tangan kiriku juga akan tumbuh lagi seperti ekor cecak.
“Pak, foto, ya…”
Aku meminta difoto. Nanti setelah dewasa, ketika tangan kiriku tumbuh lagi, aku akan memamerkan foto itu kepada orang-orang, “Lihat, aku pernah buntung, lho!”




Ulasan
Belum ada ulasan.